Senin, 16 Juni 2008

Kangen Padus 1

Hari ini tepat 1 tahun, aku memutuskan meninggalkan tempat itu. Sebenarnya hati ini masih sedih sekali, bahkan sampai sekarang masih sering menangis kalau mengingatnya. Aku selalu merindukan tempat itu. Tempat dimana aku bisa melepaskan semua beban, semua keluh kesah, melupakan sejenak rutinitas, mengekspresikan perasaanku, dan tentunya memuji Dia.

Setiap minggunya, aku selalu menantikan datangnya hari Jumat. Karena ketika hari Jumat tiba, maka besok adalah Sabtu. Sabtu adalah jadwal untuk latihan. Biasanya setiap Sabtu, sebisa mungkin aku menghindari segala macam kegiatan di atas jam 12 siang. Pokonya Sabtu jam 13.00 - 18.00 adalah waktu yang tidak bisa diganggu. Jam 13.00 aku mulai bersiap - siap bersama Ciskus, dan kami selalu bernyanyi - nyanyi kecil sebelumnya, dan 1 jam sebelumnya kami berangkat ke tempat itu. Knapa datang lebih cepat? Karena kami selalu menikmati saat - saat untuk duduk diam di kursi2 di tempat itu dan sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sangat tenang teduh rasanya, segala beban terasa terlupakan. Apalagi ketika latihan dimulai, aku sangat menikmatinya, apapun lagunya, aku selalu senang dan selalu ingin bernyanyi.

Boleh dibilang, orang - orang selalu merasa aku ini terlalu tegang atau serius kalau latihan. Selalu duduk di depan dan menyendiri dan tentunya terlihat diam. Sebenarnya bukan karena aku sok serius tapi aku memang selalu menunggu moment2 berada di tempat itu, aku selalu ingin duduk diam dan menikmati setiap saat disitu. Aku cuma ingin bernyanyi dan kalau boleh juga, aku ingin semua orang juga hanya bernyanyi dan merasakan nikmatnya ketika berdiam di tempat itu dan hanya nyanyian yang terdengar.

Boleh dibilang juga aku tidak terlalu peduli dengan orang - orang di sekitar ku kalau ditempat itu. Bukannya aku ini sombong, tapi memang dari awal aku enggan untuk terlalu banyak berbicara di tempat itu.

Ketika pertama kali berada disitu, aku menyukai suasananya, kesederhanaannya, loyalitasnya, dimana semua orang hadir untuk bernyanyi dan ingin melayani. Bukan penampilan ataupun sesuatu yang wah yang ingin diwujudkan, tapi kerendahan hati untuk melayani. Aku banyak belajar tentang kerendahan hati dalam melayani saat itu. Tapi ternyata zamannya udah berubah, kebutuhan dan trendnya juga udah berubah. Atau aku yang terlalu kuno ya? Tapi aku kurang suka kalau ditempat2 seperti itu terlalu banyak orang yang berbicara, terlalu banyak orang yang ingin membuat suatu perubahan, terlalu banyak orang yang ingin mengatur dan terlalu banyak orang yang ingin terlihat wah..

Akhirnya kesederhanaan tempat itu berkurang mungkin seiring dengan perkembangan gedung barunya, hehhehee.. Awalnya berat hati ini meninggalkan tempat itu. Tapi kadang hati tak berdaya, emosi ini pun tidak terbendung lagi. Dengan berat aku memutuskan menarik kaki ini dari tempat itu. Mungkin sudah saatnya aku harus pergi dari tempat itu.

Sampai hari ini, aku dan Ciskus masih sering kangen tempat itu. Keinginan untuk bernyanyi lagi memang sudah tidak terbendung lagi, hehehee. Untuk saat ini mungkin kami hanya bernyanyi di dalam hati dulu sepertinya. Semoga kami menemukan tempat bernyanyi yang baru dan yang lebih sederhana dimana kami datang untuk menghilangkan sedikit beban, dan bukan menambah beban baru di hati.

Terima kasih GII Dago, terima kasih B'Henry yang banyak membri contoh tentang kerendahan hati dan komitmen dalam pelayanan. Saya banyak mendapatkan berkat ketika berada di tengah - tengah teman - teman Padus 1. Mohon maaf seandainya dulu saya pernah berbuat salah, kurang peduli ataupun enggan berbicara. Bukan karena saya benci ataupun sombong, tapi memang hati saya enggan untuk banyak bicara, hehehee.

1 comments:

nando mengatakan...

ayo dong, nyanyi lagi!
pengen lihat..